Puisi "Kita"


Mengalirlah perlahan kemuara.
Dari titian waktu yg kadang cemburu dan ingin membunuh.
Dari kalimat sangkala menegur ombak.
Menghantam kisi kisi hati.
Lalu lamat menepi rohku di penghujung keabadian.
Adalah cinta dibibirku yg manis,bersarang didadamu.
Mengalirlah perlahan kemuara.
Pertemuan dari wujud kesakralan jiwa.
Aku dan kamu seiring menahan laju musim.
Sungai itu adalah kamu.
Tempat pemandian terahirku.
Dengan kemilau kejernihan.
Bukan laut yg menghimpit fir’aun.
Bukan laut yg menenggelamkan titanic.
Mengalirlah perlahan kemuara.
Balikpapan,01112011.

Puisi "Tukung 2"


Lintasan kidung dibibirmu membahana sepanjang jingga pantai.
Renyah mengurai makna mistery.
Aku melipat kediaman.
Trotoar bisu mengemban gumpalan kalimat cakrawala.
Senja mempesona.
Buliran merah saga dibalik awan putih lembut.
Belaian angin meredam keluh.
Kucipta butiran asa padamu.
Disini.
Aku kembali berbaur pada pasir,ombak dan kaki telanjang gadis kota.
Seraya kuseka keringat yg mengalir bagai hujan.
Pulau itu seperti dulu,tak berubah dan masih sendiri.
Berdiri dijajaran kemilau ombak dan cahaya bahtera.
Balikpapan,21112011

Puisi "Tukung"


Sepasang bulan redup mengitari pelangi.
Bergandengan menuju remang malam.
Awan perak dibalik rimba meruncing.
Peri kecil memainkan sayapnya.
Saat itu kita bertemu,disini.
Memadukan khayalan tentang sunset petang.
Kau pernah berkata padaku “ketinting kita terlalu kecil untuk menyeberang”
aku punya seribu puisi,sedang kau punya satu hati.
Tapi aku takluk padamu.
Karena siangmu yg benderang.
Dan akulah malam penyanjung misteri diatas pulau tukung.
Hampir saja hujan melarikan hembusan nafasku.
Sedang kita belum bertemu.
Balikpapan 31122011

Puisi "Ternyata Kau Disini"




Ternyata kau disini.
Dalam setiap hurup yg kutulis
Dalam setiap renung yg kuarung.
Kutahu ada senyum nan gemilang menyambuti malam.
Meski kau tetap membenarkan pikiranmu sendiri.
Meski telah kau robek argumen sepi.
yang mengembang hingga rindupun terlantar.
Terpuruk mencumbu nalar.
Apalah aku olehmu sayang.
Mungkin hanya seonggok daging dalam kulkas.
Bisa diremukkan mesin penggilas.
Aku tak bisa menjual pahala seperti mereka.
Pdf kosong dan presentasi bodong.
Aku tak punya kedok dan bermuka muka.
Untuk apa bermanja manja.
Sajakku terurai buat hati.
Mereka yg terusir dari surgawi.
Lebih baik kukasih saja pada semesta.dengan cuma cuma
Hingga langit terbuka.merinai tawa.
Daripada kumakan segala luka.Orang terhimpit tak berdaya.
Karena bukan itu tujuanku disini.
karena ternyata engkau disini.

Puisi "Suatu Pagi Didesaku"


Diseberang pelataran
Kau berdiri angkuh
Tanganmu mengepal nasib
Hampir tak ada senyum dan lagu
Apalagi puisi itu 
Telah kau lempar dalam dalam
Hingga tangisan yg biasa merdu
Kini terdengar seperti derit roda kereta yg lapuk.
Dan senyum kecut sisais.

Menarik beribu beban sayuran .
Kotoran kuda
Kita adalah sama.
Diantara derap langkahnya.
Aku dan gilaku adalah satu.
Tak beda.Kau dan angkuhmu.Tak lain
"Meski aku masih dibalut sangsi.
Diapit Riuh derapmu hentakkan pagi
Sumbu yg pudar
Nyala pelita jiwa tercemar
Malamku robek misteri.
Kupagut kau dalam sunyi
Sedangkan angkuhmu kugauli
Basah lidahku mengecup manismu
Tak sabar ingin kutuntaskan nikmatku
Dan yang kutau
Begitu indahnya rupamu.
Seperti sunyi yg kupuja
Atau puisi yg kueja.

8 aoril 2016.

Puisi "Suatu Pagi Didesaku"


Diseberang pelataran
Kau berdiri angkuh
Tanganmu mengepal nasib
Hampir tak ada senyum dan lagu
Apalagi puisi itu 
Telah kau lempar dalam dalam
Hingga tangisan yg biasa merdu
Kini terdengar seperti derit roda kereta yg lapuk.
Dan senyum kecut sisais.

Menarik beribu beban sayuran .
Kotoran kuda
Kita adalah sama.
Diantara derap langkahnya.
Aku dan gilaku adalah satu.
Tak beda.Kau dan angkuhmu.Tak lain

"Meski aku masih dibalut sangsi.
Diapit Riuh derapmu hentakkan pagi
Sumbu yg pudar
Nyala pelita jiwa tercemar
Malamku robek misteri.
Kupagut kau dalam sunyi
Sedangkan angkuhmu kugauli
Basah lidahku mengecup manismu
Tak sabar ingin kutuntaskan nikmatku
Dan yang kutau
Begitu indahnya rupamu.
Seperti sunyi yg kupuja
Atau puisi yg kueja.

8 aoril 2016.

Puisi "Lelaki Harus Berlayar"



Mencemooh gelombang dan badai.
Menerkam angin dan menggilas desiran.
Hingga kau tau makna sebuah kerinduan.

Bukan pada tiap bait puisi yg  jalang.
Atau rima yg perlahan memudar.
Karena perahu tak jua sampai.
Titik embun terbakar pagi.
Lalu hilang terserap sepi.

Lelaki harus berlayar.
Tak peduli jiwa terbakar.
Pada anggurmu yg kerap tertebar.

Bukan seperti waktu yg berlari.
Menebas ironi lalu mati.
Atau sebatas kenangan lalu.
Sebentar kau buang kala layu.

Lelaki harus tahu diri.
Merapal mantra diatas puisi.
Bukan basa basi.
Menerobos ilalang pagar suci.
Lelaki harus terus berlayar.
Arungi setiap aral.
Meski perih dalam sesat terjal.


Balikpapan 15052016



Yusrian ARP

Musibah dan kegagalan adalah cara tuhan mengingatkan manusia bahwa hanya Dialah yg maha berkuasa atas segala keinginan dan segala kehendak

Read More

Kumpulan puisi Idris Wahid

Puisi-puisi Idris Wahid Sajak Para Malaikat Puisi yang belum selesai, kini membangunkan aku dari mimpi hidup, ia menemui malaikat Rahman ...

Foto Saya
My Photo
Like us on Facebook
Follow us on Twitter
Recommend us on Google Plus
Subscribe me on RSS